[Drabble] This Is Love

this is love

This Is Love

|

|

|

Kwon Soo Hjin’s Story

|

|

Red Velvet [Irene] | SR14B [Lee Taeyong]

|

|

|

Aku tau aku sudah jatuh cinta.

Dan aku juga tau jika ini adalah cinta

|

|

|

||

            “Eonnie!”

Irene menutup kedua telinganya. Sambil memutar kedua bola matanya perlahan, ia menoleh dan mendapati Seulgi kini memandangnya dengan kedua matanya yang berbinar. Ia tersenyum senang kemudian berhamburan memeluk Irene.

“Ada apa?” Irene kali ini membuka mulutnya. Diliriknya Seulgi yang tersenyum malu malu. Jujur saja, dia tak pernah melihat Seulgi sebahagia ini sebelumnya.

“Dia tampan sekali!” Ujar Seulgi. Gadis itu membaringkan tubuhnya keatas kasur sambil tersenyum bahagia memandang langit langit kamar berwarna merah muda itu. Sedetik kemudian, dia memandang Irene yang menatapnya dengan kedua alisnya yang menyatu.

“Dia? Dia siapa?”

Seulgi menyipitkan kedua matanya saat mendengar kalimat yang Irene lontarkan. Gadis itu mengembungkan pipinya sesaat kemudian memutar tubuhnya membelakangi Irene sambil berdecak sebal. “Jangan bercanda. Aku sudah berkali kali menceritakan tentangnya kepadamu. Astaga! Kenapa kau selalu melupakannya?” Ujar Seulgi terdengar sedikit frustasi.

Oh, ketua ingusan itu. Siapa namanya?”

“Lee Taeyong, Eonnie. Ingat Taeyong!”

||

            Taeyong merapikan rambut coklatnya yang berantakan. Sambil menatap pantulan dirinya sendiri dicermin, dia memasang seulas senyuman manis diwajahnya.

Lelaki itu memang tampan. Semua gadis yang melihatnya pun pasti akan berfikiran hal yang sama. Garis alis yang tebal membuat lelaki ini terlihat memiliki kepribadian yang tegas dan kuat. Apalagi jika melihat sorotan mata bulat hitam yang tajam itu. Ditambah lagi dengan bibirnya yang tipis dan senyuman yang menawan. Hey! Tak ada seorang gadispun yang bisa terlepas dari pesona Lee Taeyong! Tidak ada selain, gadis galak itu.

“Namanya Irene, Ah. Nonna cerewet” Lelaki itu tertawa saat memandang selembar foto yang sengaja ia tempel ditepi kaca kamarnya. Dimana menampakkan sesosok gadis cantik berambut coklat tengah sibuk dengan bukunya. Sejujurnya, Taeyong sudah memotret gadis itu diam diam saat dia tanpa sengaja mendapati gadis itu duduk diperpustakaan.

“Astaga! Aku terlambat, Nonna-ya pasti sudah datang”

||

            “Nonna-ya

Kali ini gadis itu mulai mempercepat langkahnya. Sungguh! Kenapa setiap pagi ia harus melewati saat saat menyebalkan seperti ini?

Ya! Kenapa kau terburu buru sekali, eoh?” Irene menghentikan langkahnya saat seseorang kini meraih tangannya. Gadis itu membalikkan badannya dan menatap adik kelasnya itu dengan tatapan garang. Sementara itu Taeyong melemparkan senyuman termanisnya.

“Selamat pagi, Irene Sunbae” Kata Taeyong dengan kedua matanya yang berbinar binar. Ditatapnya ekspresi bodoh yang Irene berikan, kemudian lelaki itu mengacak acak rambut gadis itu singkat. “Lepaskan tanganku, bodoh!”

“Tidak”

Irine memutar kedua bola matanya malas. Sungguh, dia bosan setiap hari ia harus melewati keadaan yang sama, orang yang sama, permohonan yang sama dan penolakan yang sama. Hey! Tidak bisakah hidupnya ini, sehari saja tanpa bocah ingusan ini? Mengganggu sekali.

“Aku akan mengantarmu sampai kelas” Taeyong mengaitkan jemarinya dengan jemari Irene, lelaki itu mengenggam tangan gadis itu kuat sambil menarik Irene untuk tetap berdiri disampingnya. Ia tak perduli bagaimana reaksi gadis itu dan ucapan apa yang gadis itu lontarkan. Selama gadis itu bersamanya dan dia masih hidup, Taeyong akan melindunginya, apapun yang terjadi.

Oh oh, Taeyong. Aku akan pergi bersamamu, asalkan kau melepaskan tanganmu ini”

Taeyong menghentikan langkahnya dan menoleh menatap gadis yang rambut coklatnya itu dikepang secara berantakan. Lelaki itu tertawa pelan. Kemudian mendekatkan wajahnya kearah Irene sehingga hanya tersisa beberapa centi saja.

Irene memukul kepala Taeyong pelan kemudian mengendus kesal. “Hey! Jangan bersikap bodoh. Kau ini lebih muda dariku” Ujar Irene memperingatkan. Taeyong menatap Irene sambil mengelus elus kepalanya. Kemudian kembali menghela nafasnya.

“Aku hanya memastikan kau tidak berbohong, Sunbae. Lagipula jika seseorang bertanya, aku hanya perlu menjawab jika kau ini kekasihku” Kata lelaki itu singkat. Dia tersenyum penuh kemenangan saat mendapati gadis itu mengantupkan bibirnya rapat.

Oh Ya Tuhan, Kenapa kau harus mempertemukanku dengan bocah ini?” Keluh Irene pelan. Ia menghela nafasnya pelan kemudian melirik Taeyong yang terlihat terkikik.

“Baiklah baiklah. Aku akan melepaskanmu, Sunbae. Dan jangan lupa nanti malam aku akan datang kerumahmu pukul 7” Irene memutar kedua bola matanya kemudian tersenyum pada Taeyong saat lelaki itu melepaskan genggaman tangannya. Sedetik kemudian Irene menepuk pundak Taeyong kemudian melangkah pergi.

Nonnaya, aku lupa mengatakan sesuatu kepadamu” Teriak Taeyong saat Irene sudah melangkah cukup jauh. Irene memutar tubuhnya malas kemudian menatap Taeyong yang berdiri dari kejauhan.

“Apa?”

“Kau terlihat cantik, Nonnaya!” Lelaki itu kembali berteriak kemudian melambaikan tangannya dan berlari pergi kearah lapangan basket. Membiarkan Irene yang hanya terdiam bergulat dengan perasaan aneh yang mulai menyelimuti hatinya. Sejenak gadis itu mengukir seulas lengkungan indah diwajahnya sambil bergumam,

Terima kasih

||

            Taeyong mendesah pelan sambil menatap langit gelap yang dipenuhi benda benda berkerlap kerlip. Ia memandang rumah mewah dihadapannya itu dengan perasaan kesal. Sudah setengah jam lelaki itu berdiri disana, tapi gadis itu tak kunjung menampakkan dirinya. Jangan jangan Sunbaenya itu mengerjainya.

Ia kembali menghela nafasnya. Berusaha menyingkirkan seluruh fikiran negatif dan tentunya berusaha untuk berfikir positif. Lagipula Hey! Taeyong tidak suka menunggu. Tidakkah gadis itu tau? Menunggu adalah satu satunya hal yang paling menyebalkan didunia ini.

Hey!”

Taeyong membuyarkan lamunannya dan menatap sesosok gadis berambut coklat dengan kepang yang berantakan kini berdiri dihadapannya. Kedua mata Taeyong menyipit kala menatap gadis yang kini terlihat begitu anggun dari biasanya. Entahlah, walaupun dia memang menggunakan celana pendek tapi bagi Taeyong! Hey! Gadis ini terlihat cantik.

“Berhentilah memandangku seperti itu” Ujar Irene sewot. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Taeyong. Merasakan pipinya itu mulai memanas. Ini bukan pertama kalinya lelaki itu memandangnya seperti ini bukan ? Tapi kenapa Irene merasa seolah olah inilah kali pertama Taeyong memandangnya seperti ini.

Taeyong membuyarkan lamunannya tentang Irene kemudian berusaha memasang wajah marah pada Irene. “Oh kau lama sekali” Kali ini giliran Taeyong yang mengeluarkan suaranya. Ia memandang gadis yang kini menolehkan kepalanya dengan alis kanannya yang terangkat.

“Kau mengatakan jika akan datang pukul 7 bukan ?” Kata Irene Santai. Taeyong menganggukkan kepalanya ragu. “Lalu, sekarang pukul 7 bukan?” Taeyong mengangkat tangan kanannya dimana terdapat jam tangan berwarna hitam bertengger disana. Lelaki itu mendesah pelan kemudian menganggukkan kepalanya kesal. “Sial!”

“Kita akan kemana, Taeyong-ah?”

||

            “Ku dengar Nonna pernah menjadi kekasih Jhonny. Apa itu benar?”

Irene menutup mulutnya. Sambil memandang rerumputan dibawahnya. Membiarkan angin lembut menerpa rambut rambutnya yang terlepas dari ikat rambut berwarna biru. Gadis itu mendesah, lalu menolehkan kepalanya memandang sosok lelaki disampingnya, dengan seulas senyuman tipis miliknya.

Gadis itu mengangguk, sementara Taeyong membeku.

Oh jadi begitu. Dan kau masih mencintainya?” Irene kembali membeku. Lelaki itu tak perlu tau tentang masa lalunya, sejujurnya Irene benar benar tak suka jika ada orang lain yang ikut campur dalam masalahnya. Lagipula hey! Siapa orang yang tak tau jika Taeyong adalah sahabat dekat Jhonny?

“Dia sudah memiliki orang lain, Lagi pul—“

“Jadi kau masih mencintainya” Taeyong memotong ucapan Irene. Ia memandang gadis disampingnya itu dengan seulas senyuman tipis diwajahnya kemudian menghela nafasnya perlahan. Merasakan perasaan sakit yang tiba tiba menyerangnya.

Terkadang, Taeyong sangat benci dengan hal yang dinamakan dengan kenyataan. Menurutnya, kenyataan hanya akan melukai perasaannya. Dan bukan hanya dia yang merasakannya, mungkin bahkan hampir dari separuh manusia dibumi ini juga pernah benci dengan kenyataan yang harus dia terima, apalagi jika kenyataan itu menyangkut soal cinta.

“Kau memang bisa menyembunyikan perasaanmu kepada orang lain. Tapi tidak denganku. Entah mungkin karena aku terlalu mencintaimu atau mungkin itu sudah menjadi keahlianku” Taeyong memandang Irene dengan seulas senyuman hangat diwajahnya, ketua mata coklatnya itu seolah mengatakan jika semuanya akan baik baik saja. “Percayalah padaku, meskipun kau memang mencintainya. Meskipun kau tau aku ini mencintaimu sementara kau belum bisa menerima perasaanku ini, dan meskipun kau juga tau Jhonny mencintai Seulgi. Tapi aku berjanji padamu, semua akan baik baik saja. Takdir tak akan melukaimu terlalu lama, Nonna-ya

Irene meletakkan telunjuknya dibibir Taeyong sambil tersenyum manis. Gadis itu tertawa pelan kemudian menghela nafasnya perlahan. Masih memandang wajah Taeyong, dan Irene baru menyadari jika Taeyong adalah lelaki yang cukup tampan. Meskipun dia tau, Dia tak suka laki laki dibawah umur tapi, Irene sadar. Ada perasaan lain yang mulai tumbuh dihatinya.

“Kau terlalu banyak bicara, Taeyong-ah” Irene bangkit dari duduknya kemudian menghela nafasnya perlahan. “Ada hal tentang cinta yang tak bisa kau ketahui” Irene kembali menarik nafasnya perlahan, sambil memandang Taeyong yang kini sudah berdiri disampingnya sambil menatapnya bingung. “Lagipula aku ini tak menyukai Jhonny. Memangnya dia satu satunya lelaki didunia ini, eoh?”

Taeyong tertegun. Dia menatap gadis dihadapannya ini dengan tatapan tak percaya, dan entah mengapa jantungnya berdegup kencang kali ini.

K—kau menyukai seseorang? Si-siapa?” Irene tertawa saat mendengar pertanyaan yang Taeyong lontarkan. Gadis itu mengangkat bahunya kemudian berjalan meninggalkan Taeyong sambil berkata “Oh, aku lapar! Ayo kita beli steak!”

Lelaki itu memutar kedua matanya kesal. Kemudian berlari kecil kearah gadis yang kini sudah berjalan mendahuluinya, “Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan, Nonna-ya. Apa kau tak tau jika aku ini sangat penasaran eoh?” Kata Taeyong sambil mengenggam tangan kanan gadis itu, menyuruhnya untuk berhenti.Irene tertawa pelan kemudian menghentikan langkahnya dan menatap kedua mata Taeyong.

“Setahun yang lalu, aku sangat membenci seseorang. Karena dia suka sekali mengejarku kemanapun aku pergi. Tapi hari ini, aku merasa aku mulai menyukainya. Sebenarnya aku sempat menyangkal perasaan ini beberapa bulan terakhir, tapi aku menyadari satu hal Taeyong-ah. Entah mengapa, setiap kali aku memandang kedua mata coklatmu itu, aku merasakan darahku mulai berdesir. Setiap kali aku mendapati kau berada disini dengan mengenggam tanganku seperti ini, aku mampu merasakan kehangatan aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dan aku menyadari, ketika takdir mulai mempermainkanku, aku sempat beberapa kali takut jika kau tak mencintaiku. Aku takut jika kau hanya sekedar lewat dalam hidupku. Karna itu, apakah ini cinta? Apakah aku benar benar mencintaimu, Taeyong-ah? Aku—Aku tak perduli berapa jarak umur antara kita berdua. Karena aku yakin, This is Love

Taeyong membuka mulutnya tak percaya. Sedetik kemudian dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Irene, dan mencubit pipinya sendiri. “Apakah aku sedang bermimpi? Ah tidak tidak ini pasti hanya Khayalanku. Astaga! Nonna-ya mencintaiku? Apakah dia sedang mabuk? Asta—“

Ya! Apa yang kau katakan huh?” Irene memukul kepala Taeyong pelan. Sementara Taeyong tertawa. Lalu melingkarkan tangannya pada leher Irene.

“Kau yakin benar benar mencintaiku?” Irene menoleh dan menatap Taeyong yang kini tersenyum lembut padanya. Alis kanan gadis itu terangkat, bingung dengan ucapan lelaki itu. “Apan—“

Gadis itu membulatkan kedua matanya saat menyadari lelaki dihadapannya itu mencium bibirnya kilat. Beberapa detik kemudian, Taeyong melepaskan tautan bibirnya dan tersenyum singkat pada Irene yang terpaku dengan wajahnya yang berubah menjadi merah muda.

“Aku mencintaimu”

||

EPILOG

            “Irene Sunbae!”

Lelaki itu menolehkan kepalanya saat gendang telinganya itu tanpa sengaja mendengar beberapa anak meneriakkan nama seseorang. Alis kanan Taeyong terangkat, kedua matanya kini mengalihkan pandangannya pada sesosok gadis berambut coklat yang digelung dengan berantakan melintas dihadapannya.

Taeyong tertegun sesaat. Menghirup aroma mawar yang terbawa oleh angin saat gadis itu melintas. Tanpa dia sadari, kakinya kini melangkah mengikuti gadis tadi. Bagai dihipnotis, Taeyong harus mengakui sesuatu. Gadis itu benar benar menyihirnya. Bahkan pada saat pertama kali dia melihat gadis itu.

“Taeyong sshi!” Langkah kaki Taeyong terhenti. Ia menoleh dan mendapati gadis berambut hitam pekat kini tersenyum manis padanya. “Ah, Seugi-ya. Wae?”

Gadis bernama Seugi itu tersenyum lembut kemudian menarik tangan Taeyong dan memaksa lelaki itu untuk mengikutinya. Taeyong menghela nafasnya pelan sambil menoleh kekanan dan kekiri mencari gadis berambut coklat berantakan itu.

“Ki-kita mau kemana?”

“Bertemu dengan Irene Unnie. Ayo! Aku akan memperkenalkannya denganmu”

            Alis Taeyong mengkerut. Nama itu lagi. Siapa sebenarnya gadis bernama Irene itu? Tiba tiba saja lelaki itu menjadi penasaran. Gadis seperti apa orang bernama Irene itu sehingga mampu membuat para lelaki mengejarnya tadi pagi.

“Dia adalah gadis yang cantik” Taeyong membubarkan lamunannya. Ia mengangguk ragu dan menatap wajah Seugi yang nampak bersinar diterpa sinar matahari pagi.

“Apa dia secantik itu?”

||

“YA! Nonna”

            Irene membeku. Sama sekali tak ada niatan darinya untuk menolehkan kepala. Gadis itu hanya terdiam dan berusaha bersembunyi dibalik kerumunan siswa yang sedang berebut makanan. Pandangannya mengedar berusaha mencari lelaki berambut coklat berantakan tadi.

“Irene Sunbae!” Gadis itu terlonjak kala mendapati lelaki itu kini berdiri dihadapannya sambil mengenggam 2 gelas minuman. Irene menghela nafasnya perlan sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.

“Kenapa kau selalu mengikutiku hah?” Lelaki itu tertawa. Dia menyodorkan segelas minuman berwarna merah kepada Irene kemudian tersenyum simpul pada gadis itu.

“Namaku adalah Lee Taeyong. Dan aku berada dikelas D, aku adalah Dongsaengmu dan Oh ya! Aku merupakan penggemar nomor satumu!Aku akan menikah denganmu jika aku sudah besar nanti” Taeyong tersenyum manis sementara Irene membelalakkan kedua matanya.

“Apa? Tidak!”

||

END

Halloo. Ini FF pertamaku tentang mereka berdua hehe. Semoga kalian menyukainya dan jangan lupa untuk memberikan komertar yaaaaa. Thankyuu

Iklan

2 thoughts on “[Drabble] This Is Love

Comment please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s