[Drabble] First Date

request-pc52

First Date

|

|

|

Kwon Soo Hjin’s Present

|

|

Irene and Lee Taeyong

|

|

|

Poster by Arin Yessy @ Poster Channel

|

|

‘Ini adalah kencanku yang pertama kali’

|

|

            Gadis itu menghela nafasnya pelan. Ia menoleh dan memandang Seulgi yang nampak begitu bahagia menceritakan bagaimana pengalamannya tentang kencan yang beberapa jam lalu ia lakukan. Sementara Wendy dan Joy nampak begitu antusias dengan cerita Seulgi. Tapi tidak dengan Irene. Gadis itu terlihat bosan.

Eonnie, kau tidak pernah menceritakan tentang kencanmu” Kata Joy, Dia adalah anggota termuda dari Girl Grup mereka, Red Velvet. Irene membelalakkan kedua matanya. Sejenak gadis itu mendesah pelan.

Harus ia akui, Irene belum pernah berkencan. Ia juga tak terlalu banyak memiliki teman laki laki. Tapi haruskah ia berkencan? Sementara beberapa waktu lalu ia terlalu sibuk untuk mempersiapkan debut grupnya itu, dan tentu saja melakukan tugas sebagai seorang leader. Hey! Menjadi leader itu bukanlah hal yang mudah.

“Haruskah aku menjawabnya?” Kata Irene singkat. Dia memandang Seulgi, Joy dan Wendy secara bergantian kemudian memutar kedua bola matanya pelan. “Aku tidak pernah berkencan” Kata Irene akhirnya. Semua member membulatkan kedua matanya tak percaya.

“Apa?!!”

||

            Taeyong menaikkan alis kanannya. Dia memandang Seulgi yang kini mengulas senyuman manis diwajahnya. Sedetik kemudian, lelaki itu memutar kedua bola matanya malas. Haruskah dia berkencan dengan seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya? Itu terdengar menggelikan!

Oh, Ayolah Taeyong-sshi! Aku tau kau juga belum pernah berkencan, Jadi apa salahnya kau pergi dengan Irene Eonnie?” Kali ini, giliran Wendy yang mendesaknya. Lelaki itu kambali mendesah.

“Kenapa harus aku?” Tanya Taeyong malas. Dia mengedarkan pandangannya, dimana seluruh member Red Velvet dan teman temannya sedang duduk mengelilinginya. Tapi Taeyong sama sekali tak melihat gadis bernama Irene itu.

“Karena kau satu satunya orang yang belum pernah berkencan, Lagipula ini kesempatanmu untuk mendekati Irene Nonna. Jadi pergilah!” Jawab Jhonny. Ia tersenyum geli saat menatap wajah Taeyong yang kini terlihat ingin marah, malu dan malas.

Ah, Tidak tidak. Aku tidak mau!”

“Taeyong-ah!” Teriak Mereka semua saat mendengar jawaban yang Taeyong lontarkan. Taeyong memasang ekspresi datar kemudian buru buru berkata, “Baiklah baiklah”

            Pintu kaca itu terbuka. Sehingga membuat seluruh pasang mata menoleh kesana. Pintu itu terbuka cukup lebar dan menampakkan sesosok gadis berambut coklat dengan rambut terurai yang kini berjalan mendekati segerombol teman temannya. Gadis itu tersenyum lembut lalu membungkukkan badannya.

“Maaf aku terlambat. Bagaimana bisa kalian sudah ada disini?” Kata Irene saat mendapati seluruh membernya sudah duduk manis disana. Sementara Seulgi, Joy dan juga Wendy hanya memamerkan cengiran bodoh diwajah mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Irene memandang seluruh teman temannya yang kini nampak terkikik pelan. Kemudian kedua matanya tertuju pada sesosok lelaki berambut coklat berantakan yang sedang duduk ditengah tengah mereka dengan wajah tampannya yang merona.

Nonna, apakah minggu nanti kau ada acara?” Ujar Yuta. Ia memandang Irene dengan seulas senyuman aneh diwajahnya. Sementara itu, Irene menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu benar benar terlihat bingung dengan sikap semua orang hari ini. “Wae?”

“Taeyong ingin pergi ketaman bermain. Hanya saja, tak ada dari kami yang bisa menemaninya. Kau mau menemaninya?” Jelas Wendy. Ia menatap Irene dengan tatapan berharap. Sementara Irene, dia menoleh dan memandang Taeyong yang kini mengembungkan pipinya. Gadis itu tersenyum singkat.

Oh, Baiklah. Kau bisa menjemputku didorm, minggu nanti. Taeyong-sshi” Ujar Irene singkat. Gadis itu tersenyum singkat pada Taeyong kemudian bangkit dari duduknya. “Aku harus bertemu Sooman Adjusshi” Kata Gadis itu lagi. Ia melangkahkan kakinya dan berjalan meninggalkan semua teman temannya yang kini mencoba untuk menahan tawa mereka.

“Rencana berhasil!” Teriak Seulgi senang.

            Sementara itu, Taeyong nampak terpaku sesaat. Gadis itu. Apakah gadis itu bersungguh sungguh untuk menemaninya ditaman bermain? Meskipun ia tau ini adalah kebohongan bodoh dan penuh dengan rekayasa dari teman temannya, Tapi entah mengapa lelaki ini merasa begitu bahagia. Yang ada difikirannya hanyalah satu hal. Semoga minggu nanti, akan menjadi hari yang menyenangkan.

“Kau harus bisa memanfaatkan kesempatanmu ini, Taeyong-ah

||

            Taeyong menghela nafasnya perlahan. Ia memandang pintu yang terbuat dari kayu yang berdiri kokoh dihadapannya itu dengan perasaan gugup. Lelaki itu kembali menarik nafasnya mencoba menghilangkan seluruh perasaan yang sedang ia rasakan. Sudah 20 menit ia berdiri disana tanpa berani mengetuk pintu dihadapannya yang ia ketahui sebagai dorm Red Velvet.

Lelaki itu mengerutu kesal pada dirinya sendiri yang tiba tiba saja bersikap sebagai seorang penakut seperti ini. “Ayolah, apa sulitnya mengetuk pintu?” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Dia menggerakkan tangannya mencoba mengetuk pintu kayu itu. Namun, belum sempat Taeyong mengetuk pintu itu. Pintu kayu itu sudah terbuka dan menampakkan seorang gadis berambut coklat dengan ujung rambutnya yang ia jepit.

Taeyong terlonjak. Begitu juga dengan Irene.

Oh, Taeyong-sshi” Ujar Gadis itu sambil melemparkan sebuah senyuman mematikan bagi Taeyong. Taeyong merasakan tubuhnya ini membeku. Entah mengapa lelaki itu menunjukkan gerakan gerakan aneh dihadapan Irene, dan hanya membuat gadis dihadapannya itu tersenyum lembut. “Em, ki—Kita pergi sekarang” Ujar Taeyong terbata. Irene mengangguk singkat kemudian menutup pintu dorm itu. Dan berjalan bersama Taeyong kearah mobil berwarna hitam yang Taeyong bawa.

Taeyong membukakan pintu mobil itu untuk Irene. Kemudian berlarian kecil dan masuk kedalam mobil. Selama perjalanan tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Mereka terlalu sibuk dengan fikiran mereka masing masing. Irene terlalu canggung untuk mengajak Taeyong mengobrol sementara Taeyong, dia terlalu malu untuk mengatakan sesuatu pada Irene.

Mobil hitam itu berhenti disebuah taman bermain ditengah tengah kota Seoul. Malam ini tak seramain biasanya. Lagipula, Minggu malam pasti tak banyak pengunjung karena semua anak muda diSeoul tentunya sedang sibuk belajar didalam rumah.

Kajja!” Irene menoleh kemudian keluar dari Mobil dan menunggu Taeyong menutup pintu mobil.

Irene memandang bianglala yang berdiri megah dihadapannya. Kemudian dia menoleh Taeyong yang nampak tersenyum bahagia memandang permainan itu. Oh, haruskah ia menaiki permainan itu dengan Taeyong?

“Ayo kita beli tiketnya, Aku ingin naik bianglala” Ujar Irene senang. Gadis itu mengenggam tangan Taeyong kemudian menarik lelaki itu kearah loket tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Taeyong hanya terdiam saat Irene mengenggam tangannya seperti ini. Lelaki itu menolehkan kepalanya dan memandang wajah Irene yang terlihat begitu bahagia saat dia berhasil mendapatkan 2 tiket untuk naik bianglala. “Kajja!” Lelaki itu membuyarkan lamunannya kemudian mengangguk singkat.

Gadis itu masuk kedalam tempat yang membentuk sebuah keranjang cukup besar, begitu juga dengan lelaki dibelakangnya. Mereka duduk berhadapan sambil menikmati keranjang yang mereka tumpangi sudah berputar keatas, dimana mereka dapat memandang lingkungan kota Seoul yang ramai serta kerlap kerlip lampu yang menyala.

Ah, Terakhir kali aku naik bianglala sebelum aku menjadi seorang trainee” Ujar Irene mencoba memecahkan keheningan luar biasa yang sejak tadi terjadi diantara mereka. Taeyong terkekeh pelan kemudian menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan ucapan Irene.

Ne, kau benar sekali. Aku bahkan tak pernah bisa menghabiskan waktuku untuk berkencan”

Irene tersentak. Ia memandang lelaki yang lebih muda 4 tahun darinya itu dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung. “Memangnya, kapan terakhir kau berkencan. Taeyong-sshi?” Tanya Irene. Gadis itu memandang Taeyong yang mengulas senyuman manis diwajahnya yang tampan. Beberapa detik kemudian ia terlihat mendesah pelan.

“Ini pertama kalinya aku berkencan”

Irene kembali tersentak. Kedua matanya membulat. Jadi, selama ini Taeyong juga merasakan hal yang sama dengannya? Jadi ini adalah kencan pertama mereka? Oh, Astaga! Irene tak dapat mempercayai semua ini. “Kau terlihat terkejut, Nonna-ya

Gadis itu tersenyum kikuk saat mendengar ucapan terakhir yang Taeyong lontarkan. “Kau yakin ini kencan pertamamu? Bukankah kau sebelumnya pernah berkencan dengan Seulgi? Kukira kau malah menyukai Seulgi. Oleh karena itu aku bingung saat dia mengatakan untuk menemanimu kesini” Jelas Irene. Ia tersenyum malu pada Taeyong. Sementara lelaki itu? Ia tertawa.

Aniya, aku dan Seulgi sudah lama berteman. Jadi aku tak mungkin menyukainya. Lagipula aku masih ingin fokus dengan debutku, aku perlu berlatih lebih keras lagi akhir akhir ini. Yah, karena sebentar lagi kami akan debut” Ujar Taeyong. Ia tersenyum senang pada Irene. Gadis itu membalas senyuman yang Taeyong lontarkan dan entah mengapa perasaannya menjadi lega saat mengetahui tak ada hubungan apapun yang terjadi diantara Seulgi dan Taeyong. Astaga, perasaan apalagi ini?

Ah, kau benar juga. Kau perlu berlatih keras”

Eh, bagaimana dengan mu, Nonna-ya? Kudengar dari Seulgi ini juga merupakan kencan pertamamu”

Irene membulatkan kedua matanya. Ia memandang Taeyong yang kini nampak tersenyum ganjil dan berusaha menahan tawanya. “Mwo? Seulgi mengatakan hal itu padamu?” Ujar Irene terdengar tengah shok dan juga malu. Taeyong hanya mengangguk singkat sambil mengulas senyuman manis pada Irene.

“Astaga! Ini memalukan”

||

            Mobil hitam itu terhenti didepan dorm Red Velvet. Beberapa detik kemudian, lelaki berambut coklat berantakan turun dan membuka pintu mobil untuk gadis berambut coklat tergerai itu.

Taeyong tersenyum manis pada Irene sambil menggaruk garuk tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal. “Gumawo, Nonna-ya. Kuharap kita bisa melakukannya lain kali” Ujar Taeyong yang terdengar canggung. Irene terkekeh pelan kemudian menepuk pundak Taeyong pelan.

“Kau bisa menjemputku besuk dan aku akan membelikanmu Espresso jika kau mau, Taeyong-ah” Sahut Irene. Taeyong nampak membulatkan kedua matanya tak percaya. Kemudian membungkuk pada Irene.

Ya! Berhentilah bersikap formal padaku, Taeyong-ah. Ini benar benar canggung” Ujar Irene kesal. Ia memandang Taeyong yang kembali memamerkan ekspresi terkejutnya. Lelaki itu tertawa singkat lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Ah, Ne. Maksudku baiklah” Ujar Taeyong senang. “Sepertinya aku harus pulang, Nonna-ya. Ini sudah malam. Gumawo atas malam ini, Aku tak akan melupakannya”

Taeyong melambaikan tangannya kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun, usahanya sia sia saat Irene mengenggam tangan kanan lelaki itu. Taeyong membalikkan badannya dan memandang Irene dengan alis kanannya yang terangkat.

Irene berjalan mendekati Taeyong kemudian berhenti tepat dihadapan lelaki itu. Gadis itu sedikit menjinjitkan kakinya kemudian mengecup pipi Taeyong, Melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan Taeyong yang membeku ditempat, Tak percaya dengan apa yang gadis itu lakukan. Jantungnya berdegup lebih kencang kali ini. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang?

“Taeyong-ah. Gumawo! Kau akan menjemputku besuk bukan?” Taeyong membuyarkan lamunannya kemudian mengangguk pelan. Kedua matanya itu terpaku sesaat memandang senyuman yang Irene berikan padanya. Gadis itu benar benar cantik.

Setelah memastikan Irene masuk kedalam rumah. Taeyong membalikkan badannya dan berjalan menuju mobil hitam miliknya. Namun sebelum itu, lelaki itu tersenyum senang sambil bergumam,

“Nonna-ya. Mungkinkah aku menyukaimu?”

||

            Irene menghempaskan tubuhnya diatas sofa sambil memamerkan seulas senyuman diwajahnya yang cantik. Gadis itu terus tersenyum mengingat kejadian yang dia alami bersama dengan Taeyong beberapa jam yang lalu. Dan sama sekali tak memperdulikan member member lain kini menatapnya dengan tatapan aneh.

Ehem. Bagaimana kencan pertamamu ini, Eonnie?” Tanya Joy.

“Baik”

“Apakah kau bahagia?” Kali ini giliran Wendy.

Irene mengangguk singkat. “Yah, Lumayan”

“Kalian tidak berciuman bukan?” Seulgi kini memandang Irene yang langsung bangkit dari sofa dan memandang Seulgi dengan tampang kikuk. “Kau tidak menciumnya kan, Eonnie?” Tanya Wendy memastikan. Irene menelan ludahnya. Gadis itu mengecup pipi Taeyong tadi!!

“Omong kosong apa ini, huh? Te-tentu saja tidak” Ujar Irene gugup.  Gadis itu dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar untuk menghindari pertanyaan mematikan lainnya. Seulgi nampak  tersenyum puas, karena dia bisa mengerjai Irene.

Oh, tapi kurasa artikel tentangmu dan Taeyong akan segera dirilis besuk. Eonnie

Irene menghentikan langkahnya. Kemudian menoleh memandang Seulgi dengan tatapan bingung. Artikel? Artikel apa? “Maksudmu?” Kata Irene.

“Ya, Artikel tentang ‘Irene Red Velvet mengecup pipi Lee Taeyong’ Yah, Artikel itu” Ujar Wendy. Ia mencoba menahan tawanya yang siap meledak saat mendapati ekspresi Irene yang berubah menjadi begitu lucu dan wajahnya yang tiba tiba saja merona.

Hey! Kalian mengintip?”

Ani, kami tidak mengintip. Hanya tanpa sengaja melihatnya. Di CCTV” Irene memukul jidatnya pelan. Bagaimana bisa ia bersikap begitu bodoh dan melupakan ada CCTV didepan dormnya?

“Jadi kau benar benar menciumnya?”

YA! Hentikan”

“Apakah kau menyukainya?”

YA! APA YANG KAU UCAPKAN!”

“Apakah kalian akan berkencan lagi besuk?”

“TIDAK! TIDAK AKAN PERNAH!”

Wae? Kalian terlihat saling jatuh cinta!”

“CUKUP! HENTIKAN SEULGI-AH!!”

||

END

Hello,

Second Taeyong and Irene Fanfic!

Hehe, aku lagi suka sukanya sama mereka berdua-.- Tolong dimaklumin 😀

Oh ya, maaf untuk bad ff. Meskipun begitu, aku berharap kalian tetep mau komentar~^^

Gumawoo

Iklan

6 thoughts on “[Drabble] First Date

Comment please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s