[Drabble] Whisper

wishper

Whisper

||

Kwon Soo Hjin’s Story

||

Irene And Taeyong

|| Romance, Friendship, Little Sad || General ||

|| Amazing Poster by Min RinAh12 ||

||

It’s my own story. Don’t copy and plagiat, ya!

||

Kau mencintai dia.

Ketika cinta berbisik padaku. Saat aku tanpa sengaja memandang wajahmu yang tersenyum lembut. Aku tertegun. Fikiranku melayang. Apa iya?

Kau mencintai dia.

Cinta kembali berbisik. Tapi kali ini aku hanya diam. Kata kata itu terdengar ambigu ditelingaku. Aku bahkan tak pernah menyadari jika aku mencintainya.

Dan dia mencintaimu,

Aku tau. Aku tau itu.

||

            Bagi mereka, duduk dibawah pohon mapple sambil mendengarkan musik mellow dan menikmati sentuhan angin musim gugur adalah hal yang terbaik. Tanpa ada kalimat yang terucap. Sibuk beragumen dengan fikiran mereka, Irene dan Taeyong menyambut datangnya musim gugur dengan senyuman manis diwajah mereka.

Sambil memperhatikan teman teman mereka yang sedang bermain basket dilapangan. Seolah olah, mereka punya dunianya sendiri sehingga mengacuhkan kawan kawannya.

“Seulgi bilang, kalian akan debut” Taeyong melirik Irene yang sibuk berkutik dengan novel tebal miliknya. Irene menghentikan aktivitasnya, kemudian memalingkan wajahnya menatap Taeyong sambil berkata “Ya”

“Kapan?” Tanya Taeyong lagi. Ia menarik nafasnya, “Dua bulan lagi” Lalu Taeyong mengembuskan nafasnya, lega.

Angin musim gugur kembali berhembus. Menerbangkan rambut coklat Irene yang terurai. Taeyong terdiam sesaat. Lelaki itu terlihat terpaku saat memandang Irene yang bahkan sibuk berkutik dengan novelnya. Tapi dimata lelaki itu, Gadis dihadapannya ini berbeda. Ia terlihat cantik dengan caranya sendiri, dengan sikapnya dan yang paling ia sukai adalah kedua mata milik Irene. Yang selalu memberinya perasaan teduh.

Irene terlihat paling pendiam diantara member lain. Kedua matanya yang bulat dan sedikit sipit itu memiliki sebuah tatapan tajam tapi meneduhkan. Sikapnya yang tak terlalu mudah bergaul itu membuatnya berbeda dimata Taeyong. Butuh kerja keras untuk bisa dekat dengannya, oleh karena itu akan sangat disayangkan jika hubungan mereka merenggang suatu saat nanti.

Taeyong tau ini mungkin sedikit berlebihan tapi, entah mengapa ia sedikit kecewa saat mendengar Irene akan segera debut. Ia tak memiliki alasan apapun. Hanya sebuah perasaan takut yang mulai menggerogoti hatinya. Takut Irene tak punya waktu untuknya.

“Kau tau, aku begitu lelah akhir akhir ini. Persiapan debut benar benar membuatku kurang istirahat” Keluh Irene. Gadis itu mendesah pelan, lalu memandang Seulgi yang nampak tertawa terbahak bahak saat tanpa sengaja bola yang dilempar oleh Johnny mengenai kepala Wendy.

“Memangnya semalam kau tidur jam berapa?” Taeyong melirik Irene yang kini mulai menguap. Gadis itu terkekeh, “Pukul 2”

Taeyong mendesah kesal. Manager mereka benar benar sudah mulai membuat mereka bekerja keras akhir akhir ini. Sementara nanti sore, mereka juga akan berlatih untuk memantapkan dance mereka. Lelaki itu menoleh menatap kedua mata Irene yang terlihat lelah, ia tak seperti member member lainnya yang terlihat begitu ceria. Gadis disampingnya ini seolah tengah memikul sebuah beban yang amat besar. Dan yang Taeyong tau, Irene akan menjadi leader grup mereka.

“Tidurlah” Irene membuka kedua matanya yang terpejam. Kemudian menoleh menatap kearah Taeyong yang kini tersenyum simpul padanya. Tangan kanan lelaki itu menepuk nepuk pundaknya. Dan tanpa berfikir panjang, gadis itu meletakkan kepalanya diatas pundak Taeyong dan memejamkan kedua matanya.

Untuk pertama kalinya, Taeyong berharap waktu berjalan dengan lambat kali ini.

||

            Taeyong memutar kedua bola matanya malas. Ia memandang Johnny yang kini sibuk menatap dirinya sendiri dipantulan kaca dorm mereka. Seolah olah, Johnny terlihat tampan, Tidak. Lebih tepatnya sangat tampan.

Oh, Man. Ayolah, berhenti berkaca seperti seorang gadis” Kata Taeyong asal. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil memandang layar handphonenya. Johnny melirik Taeyong lewat pantulan kaca, kemudian berdecak sebal. Dan tentunya lelaki itu mengerutu sekarang.

“Bagaimana keadaan Irene Nonna, Taeyong-ah?” Taeyong terperanjak dari kasur. Dia memandang Johnny dengan alis kanannya yang terangkat, seolah ia tak mengerti, seolah lelaki itu bingung.

“Irene Nonna? Wae? Apa yang terjadi?” Teriak Taeyong, mulai panik. Ia bangkit dari kasur dan berdiri disamping Johnny. Seakan akan ia siap untuk pergi melesat setelah dia mendengar untaian kata dari mulut Johnny. Sementara itu, Johnny menaikkan alis kanannya memadang Taeyong dengan heran. Karena ini pertama kalinya sejak dia mengenal Taeyong dan melihat ekspresinya yang begitu—panik.

“Kau—terlihat begitu—panik” Saut Johnny santai, mengabaikan ocehan kesal yang Taeyong lontarkan setelah itu. “Oh, ayolah katakan padaku apa yang terjadi” Desak Taeyong lagi. Johnny mengerutu kesal kemudian ia berkata,

“Coba saja kau telpon dia. Kurasa dia sudah pulang” Taeyong membelalakkan kedua matanya saat mendengar kenyataan aneh dari Johnny.

“Sudah pulang?” Taeyong menaikkan alis kanannya, sibuk memikirkan makna sebenarnya dari kalimat itu. “Jangan katakan jika dia masuk rumah sakit. Astaga!”

“Ya, dia pingsan kemarin karena terlalu lelah”

>>>>

“Yeobbseyo?Taeyong-ah” Taeyong diam diam mengukir seulas senyuman saat mendengar suara seorang gadis dari seberang sana. Hati yang mulanya panik ini mulai terasa teduh dan damai seperti biasanya. Taeyong berdeham.

“Nonna, Gwenchana?” Dari sebrang, Irene terdengar tertawa. Seolah aneh dengan kata kata yang Taeyong lontarkan.

“Tentu. aku baik baik saja. Kenapa?”

“Mwo? Kau masih bisa bertanya kenapa? Johnny bilang kau pingsan kemarin, Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Kau perlu banyak istirahat Nonna” Ujar Taeyong. Lelaki itu merebahkan tubuhnya keatas kasur sambil mendesah kesal. Sementara Irene terdengar tengah tertawa.

“Johnny bilang begitu?” Tanya Irene. Gadis itu tertawa. “Bukan aku yang pingsan. Tapi Joy” Lanjutnya. Taeyong membelalakkan kedua matanya. Sial. Dia sudah dibohongi. Oh Astaga!

“Mwo?! Tapi Johnny bilang—Ah, ya sudahlah. Dimana kau sekarang?”

“Dijalan”

“Dijalan? Kau mau kemana Nonna?”

“Ke dorm mu”

||

            “Kenapa kau tak mengatakan kalau kau datang ?” bisik Taeyong. Ia melirik Irene yang hanya tersenyum kemudian meminum segelas air putih yang tersedia diatas meja.

Hari ini, Manager mereka sedang berulang tahun. Dan mereka memutuskan untuk merayakannya dengan pesta kecil kecilan didorm yang Taeyong dan teman temannya tempati. Oleh karena itu RedVelvet datang kesana. Sejujurnya, Taeyong benar benar lupa jika hari ini hyungnya itu sedang berulang tahun.

“Aku sudah mengatakannya ditelpon bukan?”Jawab Irene. Tentunya sambil berbisik. Taeyong memutar kedua bola matanya kesal kemudian mencubit lengan Nonnanya itu. “YA!” Teriak Irene, spontan. Gadis itu menyipitkan kedua matanya menatap Taeyong yang kini hanya tertawa sambil mengangkat tangan kanannya membentuk ‘v’

“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Yuta. Irene dan Taeyong menolehkan kepala mereka dan semua orang kini tengah menatapnya dengan tatapan aneh. Taeyong berdeham kemudian menoleh memandang Irene yang kini terdiam menatapnya.

“Kami tidak melakukan apapun” Elak Taeyong. Dia menatap Yuta dengan tatapan kesal, seolah sedang berkata lewat matanya yang tajam ‘Berhenti atau aku akan melemparmu sekarang!’

Memandang tatapan yang Taeyong berikan membuat Yuta menghela nafasnya pelan. Lalu mencoba menemukan topik menarik dan tentunya mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Taeyong dan Irene.

“Taeyong-ah. Kudengar kau pernah memiliki kekasih” Ujar Wendy. Ia menatap Taeyong yang duduk dihadapannya itu dengan senyuman menggoda. Taeyong menelan ludahnya, kemudian melirik kearah Seulgi yang kini menunduk, terlihat gusar.

“Bukankah Taeyong dan Seulgi pernah menjadi sepasang kekasih?”

Taeyong terdiam. Begitu juga dengan Seulgi. Suasana mendadak menjadi aneh. Tak seorangpun diantara mereka mengucapkan sepatah kata. Seolah olah topik kali ini benar benar topik yang membosankan dan tak menarik bagi siapapun yang mendengarnya.

“Benarkah?” Irene membuka mulutnya. Ia menoleh kearah Taeyong dan Seulgi yang kini juga menatapnya. Gadis itu tersenyum lembut. Bagaimanapun juga, dia adalah yang paling tua diantara teman temannya itu.

“Tidak. Kami hanya berteman”

Seulgi menganggukkan kepalanya, seolah setuju dengan ucapan yang Taeyong lontarkan. Kemudian tersenyum lembut pada Irene yang hanya diam. Mencari kebohongan yang terselip diantara ucapan Taeyong. Irene mendesah pelan, lalu mengangguk singkat.

“Aku tau”

||

            Angin musim gugur berhembus. Untuk pertama kali seumur hidupnya, Irene menolak angin itu menerpanya. Kedua matanya terpejam, mencoba menghilangkan seluruh perasaan aneh yang datang padanya.

Ia masih didorm Taeyong. Tapi ia sengaja untuk pergi keluar dengan alasan ingin melihat lihat halaman. Irene seolah tak perduli hawa dingin yang akan ia hadapi saat itu. Tapi anehnya ia terus saja berjalan seolah tak merasakan angin dingin mulai membekukan kulitnya. Dan tempat sekarang ia berada adalah dihalaman belakang dorm.

Tempat ini disinari dengan lampu yang remang remang. Dengan sebuah pohon besar berdiri tegap disana, pohon yang sudah berubah warnanya menjadi kuning, orange atau mungkin merah itu selalu terlihat indah dimata Irene. Dia suka musim gugur. Dan semua orang tau tentang itu.

Gadis itu menghela nafasnya. Entah mengapa hatinya mendadak menjadi nyeri kala ia tau kebohongan yang Taeyong ucapkan tadi. Ia tau. Bahkan semua teman temannya juga tau jika Taeyong berbohong. Hey! Siapa orang yang tak tau tentang hubungan Taeyong dan Seulgi sebelum ini—sebelum ia benar benar sedekat ini dengan Taeyong— Seulgi juga sering mengatakan banyak hal tentang Taeyong dulu.

Tapi kenapa tiba tiba saja ia menjadi seperti ini? Entah mengapa Irene merasakan denyut nadinya mulai melemah saat mendengar pertanyaan yang Wendy lontarkan. Entah mengapa aliran darahnya mulai membeku kala ia menatap Taeyong yang terlihat terkejut—mungkin itu karena hawa yang dingin. Dan entah mengapa, ia tiba tiba saja seperti terluka saat mendengar kebohongan yang Taeyong ucapkan.

Dia tak mencintai Taeyong.

Dan Irene benar benar percaya pada hal itu. Namun belakangan ini, Irene benar benar merasa aneh jika ia bersama dengan lelaki yang bahkan lebih muda 4 tahun darinya itu. Bisa saja ia mencintai Taeyong tapi, akankah itu diperbolehkan? Bahkan setelah ia tau dari kedua mata Taeyong jika lelaki itu pernah menjadi kekasih sahabatnya?

Tapi cinta tak akan pernah berkata tidak bukan? Jika seseorang melihat Irene yang diam diam tersenyum saat Taeyong menelponnya. Ketika tanpa sengaja kedua mata gadis itu mengekor kearah Taeyong pergi. Tentang bagaimana cara Irene memandang lelaki itu, tersenyum padanya, berbicara padanya. Bahkan cara Irene memanggil Taeyong. Gerak gerik yang Irene tunjukkanpun seolah mengatakan hal yang sama. Cinta telah menentukan takdirnya. Dan Irene bisa jadi menjadi gadis yang akan Taeyong cintai, selanjutnya.

Karena cinta baru saja berbisik jika Irene mencintai Taeyong.

Yah. Irene mencintainya. Jauh dari dasar hatinya yang paling dalam. Tanpa ia sadari, ia merasa nyaman saat Taeyong berada disampingnya. Ia benar benar merasakan sebuah kebahagiaan yang mengalir diam diam memenuhi organ organ ditubuhnya. Jika dia berfikir tak mencintai Taeyong, maka Irene akan merasakan jika ia mencintainya. Gadis itu benar benar mencintainya.

“Ah, Indah sekali bukan?” Irene mengangkat kepalanya. Dimana sesosok lelaki berambut coklat berantakan berdiri dihadapannya. Ia tersenyum lembut kemudian duduk disamping Irene yang hanya terdiam, sibuk dengan perasaannya.

“Aku tau kau marah denganku” Ujar Lelaki itu. Ia menolehkan kepalanya menatap Irene yang hanya terdiam, tak memandangnya. “Aku tau kau marah karena aku berbohong tadi. Karena itu aku minta maaf” Taeyong menghela nafasnya perlahan. Menunggu jawaban dari Irene. Tapi gadis itu tak kunjung memberinya respon.

“Aku hanya tak suka jika menceritakan hubunganku dengan Seulgi. Sebelum ini, hubungan kami benar benar memburuk. Tapi sekarang aku merasa hubungan kali lebih baik dari sebelumnya. Karena itu—“

“Kau masih mencintai Seulgi?” Ujar Irene. Ia menatap Taeyong lekat. Dan dengan bodohnya berharap jika lelaki itu tak mencintai Seulgi. Yah, ia berharap Taeyong berkata ia tak mencintai gadis itu. Oh demi apapun, Irene tak ingin mendengar jawaban ‘ya’ dari mulut Taeyong.

“Tidak” Taeyong tersenyum lembut pada gadis itu, lalu menghela nafasnya perlahan. “Aku tak mencintainya”

Tanpa ia sadari, Irene menghela nafasnya lega. Gadis itu tersenyum manis, seolah olah ia benar benar puas dengan jawaban dari Taeyong. Irene benar benar mampu merasakan ribuan kupu kupu memenuhi perutnya dan dalam hitungan detik siap untuk meledak. Gadis itu menatap Taeyong singkat lalu mengalihkan pandangannya menatap bintang bintang dilangit, sambil tersenyum.

“Seulgi memang gadis yang baik, jadi ia tak seharusnya mendapatkan lelaki seperti—“

“Kau berkata jika tak mencintainya. Tapi mengapa kau terus membahas tentang Seulgi huh?” Ujar Irene kesal. Ia menoleh menatap Taeyong yang menatapnya dengan tatapan bingung. Taeyong diam diam tersenyum lembut. “Kukira kau ingin mendengar lanjutan dari ceritaku” Sahut Taeyong menjelaskan maksudnya. Irene mendesah pelan, lalu menatap Taeyong dengan kedua mata yang memancarkan sorot kekesalan.

“Tentu saja tidak”

Taeyong tertawa. Lelaki itu mengacak acak rambut Irene pelan dan menatap wajah Irene yang terlihat kesal. “Apa kau cemburu?” Irene menoleh dan menatap Taeyong dengan kedua matanya yang terbelalak. Sial. Lelaki itu benar benar bisa membaca gerak geriknya.

“Ya! Apa yang kau bicarakan. Tentu saja tidak” Elak Irene. Ia mengalihkan pandanganya dari Taeyong. Sementara lelaki itu, Ia kini tertawa pelan. Ia tau benar jika gadis berambut coklat disampingnya ini sedang cemburu. Karena Taeyong juga tau, Irene tak bisa berbohong, tak suka berbohong dan tidak akan pernah mau untuk berbohong.

“Kalau begitu, kau bisa berpura pura untuk cemburu” Ujar Taeyong. Ia menatap Irene yang kini sudah menolehkan kepalanya, menatapnya dengan tatapan bingung. Taeyong tersenyum lembut. “Apa?” Sahut Irene. Ia menatap Taeyong dengan tatapan bingung.

“Karena cinta baru saja berbisik, jika aku mencintaimu”

Irene terpaku. Sungguh! Demi apapun ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Lelaki ini mencintainya? Benarkah? Ya Tuhan, bisakah gadis itu memiliki sayap kemudian terbang dengan riang seperti kupu kupu sekarang? Ia benar benar tak mampu mengungkapkan perasaannya, tapi Hey! Irene juga mencintai lelaki itu!

“Aku tau. Karena cinta juga baru saja memberiku ungkapan yang sama”

|

END

Hello. Maaf ya kalo ffnya jelek engga nyambung dan lain lain. Yah, semoga kalian suka dengan ceritanya kwkwk 😀

Oke jangan lupa komentar, Bye bye

Iklan

2 thoughts on “[Drabble] Whisper

Comment please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s