[Drabble] 千羽鶴

千羽鶴

千羽鶴

|

|

‘..tsuru..’

|

|

|

Kwon Soo Hjin’s Present

|

|

Kwon Yuri | Xi Luhan

|

|

Poster by

Jungg at Cafe Poster

|

            “Aku rindu” Ujarnya.

Ia menatapku dengan kedua matanya yang berlinang. Seulas senyuman paksa yang terpasang. Secoret luka yang membekas.

Aku terpaku.

Tak mampu berkata kata. Lidahku ini seolah terikat menjadi satu. Aku tahu. Bagaimana kenyataan meremukkan hatimu. Aku tahu. Bagaimana takdir menjadi satu penghalang bagi kita. Aku tahu. Bagaimana rasanya rindu yang perlahan lahan mulai mencekik dan akhirnya membunuhmu.

Aku juga.

Aku juga rindu. Tapi bukankah ini sudah terlambat? Aku bukanlah lagi jadi orang itu. Dan aku akan mengatakan ini sekali saja, hanya sekali. Dan bahkan jika “Aku lebih merindukan dirimu”

|

|

Story begin.

Seoul, 23 January 2005

Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan. Ia terdiam kala memandang kertas kertas yang berserakan dan kumpulan origami berbentuk burung bangau yang ada dilantai. Sudah beberapa kali ia memasukkan origami origami itu kedalam kardus. Tapi, karna dia tak kunjung berhenti membuat yang lainnya, usahanya menjadi sia sia.

Sejenak ia mengalihkan pandangannya pada lelaki berambut coklat yang kini juga sibuk membantunya untuk membuat origami. Gadis itu tersenyum manis lalu melanjutkan perkerjaan yang sebelumnya ia lakukan.

“Berapa banyak lagi origami yang ingin kau buat, Yuri-ya?” Tanya lelaki itu. Ia meletakkan burung bangau berwarna biru diatas lantai kemudian kembali meraih kertas lain dan melipatnya. Yuri menoleh. Ia nampak berfikir sejenak.

“1000? Mitos Jepang berkata jika kita membuat 1000 Tsuru, maka 1 permohonan kita akan terkabul. Bukankah itu menarik?” Ujar Yuri. Ia memandang Luhan yang hanya terdiam. Seolah tak tertarik dengan obrolan mereka. Luhan menarik nafasnya singkat dan kembali memandang Yuri.

“Baiklah, aku akan memohon jika aku bisa menjadi pengusaha suatu hari nanti” Yuri mencibir singkat saat mendengar ucapan dari Luhan kemudian memukul kepala lelaki itu pelan. “Bukan untukmu Paboya! Aku menyuruhmu kesini untuk permohonanku”

Luhan tertawa singkat. “Ya ya ya. Lalu akan kau apakan semua ini jika kau sudah mengucapkan permohonanmu itu? Kau bisa memberikannya padaku” Ujar Luhan lagi. Dan Yuri kembali mencibir sambil menggelengkan kepalanya.

Wae?” Teriak lelaki itu mulai kesal.

“Mitos Jepang berkata, 1000 tsuru hanya bisa diberikan kepada orang yang kita cintai. Dan, aku tak mencintaimu Luhan. Kau tau itu bukan?”

Luhan kembali melipat kertas dihadapannya. Ia menghela nafasnya yang sempat sesak beberapa detik lalu, kemudian memandang Yuri yang kini sibuk menata kumpulan origami bangau yang sudah ia selesaikan.

Ia tau jika gadis itu tak mencintainya. Atau mungkin ia sangat tau.

“Ya, Aku tau”

…Tsuru…

            Yuri menarik tangan Luhan dan memaksa lelaki itu untuk berjalan mengikutinya. Langkah kaki mereka terhenti ditaman dekat lapangan basket. Luhan menoleh memandang Yuri yang masih sibuk meminum sekotak susu coklat kesukaannya. Lelaki itu hanya menghela nafasnya pasrah dan duduk dibangku kayu yang ada disana.

Taman dilapangan itu sering sekali digunakan para siswi perempuan untuk mengamati datau sekedar menyemangati para pemain ‘tampan’ disekolah mereka. Dan salah satu siswa yang paling banyak mendapatkan fangirl adalah Oh Sehun, Sang Ketua Basket.

Oh Sehun itu tampan? Ya, bahkan sangat. Tinggi? Ya. Bertubuh bagus? Ya. Baik? Ya. Sexy? Ya. Ramah? Ya, hanya dengan para lelaki. Dan yang paling semua gadis sukai adalah bagaimana sifatnya yang begitu dingin pada semua gadis disekolahnya. Ia benar benar menjadi lelaki idaman.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan disini?” Tanya Luhan. Ia memandang Yuri yang berdiri dihadapannya dengan kedua mata yang benar benar fokus pada lapangan basket. Luhan menghela nafasnya perlahan. Lelaki itu menyerah!

“Yuri-ya!”

Gadis itu menoleh. Ia menatap Luhan dengan ekspresi kesal miliknya kemudian duduk disamping Luhan dan membuang kotak susu yang ia minum. “Wae! Kau benar benar mengangguku mengamati Sehun” Ujar Yuri kesal. Ia menatap Luhan yang kini memandangnya dengan ekspresi bingung.

“Kau menyukai lelaki itu?” Tanya Luhan santai. Dia menatap lurus kedepan, sambil menunggu jawaban dari Yuri. Sementara itu, Yuri memandang Luhan dan mulai mengalihkan padangannya dari wajah Luhan.

Gadis itu menghela nafasnya perlahan. Entah mengapa dadanya tiba tiba saja menjadi sesak saat Luhan menanyakan hal itu. Seolah olah ia tak ingin Luhan tau jika ia menyukai Sehun.

“Apa maksudmu dengan aku menyu—baiklah aku memang menyukainya” Ujar Yuri. Ia memejamkan kedua matanya, merasakan bagaimana angin pagi berhembus lembut menyapanya. Luhan kembali terdiam. Beberapa detik kemudian dia mengulas senyuman pada Yuri.

“Oh jadi dia orang itu?” Ujar Luhan. Ia memandang Yuri yang meliriknya malu malu. Luhan tertawa singkat lalu mengacak acak rambut hitam Yuri. “Kau akan memberikan tsuru itu padanya bukan?” Kali ini gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, berikan saja. Aku akan membantumu menyelesaikannya”

…Tsuru…

            Angin musim panas berhembus. Melewati celah celah pepohonan, menembus sinar matahari. Luhan memandang Yuri dari kejauhan. Menyaksikan bagaimana gadis itu nampak kesulitan membawa seribu origami burung bangau yang telah diikatnya menjadi satu.

Seperti bayangan. Luhan mengikuti setiap tempat yang gadis itu lewati. Setidaknya ia hanya ingin memastikan jika gadis itu dalam keadaan aman dan tentunya baik baik saja. Meskipun begitu, ia juga ingin tau. Apa respon yang Sehun berikan pada Yuri. Lebih tepatnya apakah lelaki sepopuler Sehun akan menerima seorang gadis yang suka menghabisnya hampir separuh waktunya membaca novel romansa dan duduk sambil mengobrol hal hal yang menurut Luhan akan sangat membosankan bagi Sehun. Walaupun memang beberapa kali ia bosan jika Yuri menceritakan hal tentang, Yah novel yang sering ia baca. Siapa tokohnya, bagaimana konfliknya dan bla bla bla.

Tapi entah apa, ada yang menarik dari gadis itu sehingga Luhan bisa begitu dekat dengannya. Sejak kecil mereka memang sudah satu sekolah. Tapi mereka baru dekat saat akan kelulusan Elementary school. Dulu Yuri sering diejek oleh teman teman Luhan gadis kutu buku.

Memang, penampilan gadis itu sangat jauh berbeda dari sekarang ini. Yuri yang sekarang ini benar benar berbanding terbalik dengan Yuri yang dulu. Hey! Dulu Yuri adalah gadis yang menggunakan poni rata dan rambut yang dikepang dua, serta menggunakan kawat gigi. Sementara Yuri yang sekarang, dengan rambut hitam panjang yang terurai dan terkadang dijepit, rok pendek dan Yah, yang pasti penampilannya akan membuat teman teman lama Luhan akan menarik perkataan mereka lagi.

Sementara itu, Sehun adalah sahabat lama Luhan. Jika Sehun adalah ketua basket, maka Luhan adalah ketua football. Sejak kecil mereka selalu bersama, tapi semenjak kelulusan elementary school dan mereka berbeda sekolah, membuat mereka tanpa sadar melupakan satu sama lain. Tapi, takdir membawa mereka kembali bertemu. Tapi Sehun yang ini juga berbeda. Ia hanya sedikit angkuh.

Luhan menghentikan langkahnya saat ia memandang Yuri yang kini sedang bercakap cakap dengan Sehun. Yuri terlihat tersenyum manis dan begitu juga dengan Sehun. Sialnya, Luhan tak mampu mendengar percakapan mereka.

Beberapa menit kemudian. Yuri terlihat tersenyum pahit pada Sehun kemudian berlari menjauh. Luhan terdiam. Sibuk berasumsi apa ucapan yang Sehun lontarkan sehingga membuat Yuri seperti itu? Apakah Sehun menolak cinta Yuri? Apakah Sehun memaki gadis itu? Atau apakah Sehun menghina Yuri?

Dan ketika Luhan sadar dari lamunan panjangnya, Yuri sudah menghilang. Namun, disebrang sana, Sehun nampak berdiri sambil tersenyum padanya. Tangan lelaki itu masih mengenggam seribu tsuru yang Yuri berikan.

“Luhan-ya. Kau lihat? Gadismu memberikan barang ini padaku” Teriak Sehun. Ia kembali menampakkan smirknya pada Luhan. Sementara itu, Luhan hanya bisa mengumpat dalam hatinya, sambil melangkah mendekati Sehun. “Apa maksudmu?”

“Kau tak perlu berpura pura lagi. Aku sudah tau hal itu bahkan sejak kita masih dielementary school dulu. Aku sempat tak menyangka kau menyukai gadis cupu yang selalu kita bully. Dan aku lebih tak menyangka lagi jika cintamu itu bertepuk sebelah tangan. Kau lebih tampan daripadaku, Luhan-ya. Kau lebih kaya, kau lebih baik, lebih pintar dan semua hal kau adalah yang terbaik. Tapi kenapa justru kau tak bisa membuat gadis seperti Yuri jatuh cinta padamu? Bukankah itu seharusnya menjadi hal yang paling mudah untukmu, Xi Luhan?”

Luhan terdiam. Ia tak menjawab ucapan yang Sehun lontarkan. Ia kesal. Ia marah. Tapi dia tak mampu melakukan sesuatu. Dia tak mampu membuat lelaki dihadapannya ini tutup mulut. Dia tak mampu, karena bagaimanapun juga, Sehun pernah menjadi sahabatnya. Tapi dia benar benar benci cara Sehun menghina Yuri. Sial.

Sehun berjalan meninggalkan Luhan yang hanya diam. Lelaki itu terus berjalan sambil menyeret ribuan origami tadi. Dan langkahnya terhenti saat dia sudah sampai didekat tong sampah lalu memasukkan origami origami yang diberikan oleh Yuri kedalamnya. Sehun membuangnya.

“Aku tak membutuhkannya. Dan dengar, aku tak menyukai gadis cupu itu jad—“

“TUTUP MULUTMU OH SEHUN!!!”

Sehun jatuh tersungkur sambil memegang pipi kanannya yang memar. Dia memandang Luhan yang kini menarik nafasnya tak beraturan. Tangan Luhan masih terkepal dan lelaki dihadapannya ini masih memandangnya dengan wajah garang yang bahkan belum pernah dilihatnya selama mereka masih bersahabat dulu.

“Berhenti menghinanya, itu membuatku sakit. Sehun-ah

…Tsuru…

“Aku menyukaimu Sehun-ah. Kuharap kau bisa menerima ini”

“Apa ini? Yuri-sshi?”

“Tsuru. Ini akan mengabulkan permohonanmu”

“Ah, Baiklah. Tapi aku tak bisa menerima cintamu. Mianne, aku tak bermak—“

“Gwenchana, aku mengerti. Aku akan pergi. Gumawo”

Gadis itu memejamkan kedua matanya. Mencoba membuat degupan didadanya ini berhenti berdegup kencang. Beberapa jam yang lalu, dia sudah melakukannya. Ia sudah melakukan apa yang ia ingin katakan pada cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tak menyukainya, Yuri merasa benar benar lega. Setidaknya, dengan begitu ia tak terlalu terbebani karena mencintai seseorang dengan diam diam.

Ia mengangkat tangan kanannya dimana jam berwarna pink bertengger indah. Beberapa menit kemudian, dia mendengar suara bel berbunyi dan dalam sekejap lapangan basket dipenuhi dengan siswi siswi dan para pemain basket. Gadis itu kembali mengulas senyumnya kala ia memandang Sehun berdiri disana, dan siap untuk memulai pertandingan.

Yuri sedang menunggu Luhan. Gadis itu mendengar kabar burung tentang Yah, jika Luhan dipanggil kekantor guru. Entah apa yang lelaki itu lakukan, setau Yuri Luhan tak akan melakukan kesalahan fatal sehingga membuatnya dipanggil kekantor guru. Luhan bukan lelaki sebodoh itu yang akan melanggar peraturan disekolah. Yah, meskipun dulu sejak kecil Luhan selalu menganggunya bersama dengan Sehun, tapi dia termasuk murid yang pintar disekolahnya.

“Ada apa kau menyuruhku ketempat ini?” Gadis itu membuyarkan lamunannya. Ia mengalihkan padangannya dari lapangan basket dan menatap lelaki yang kini terlihat memar disudut bibirnya. Yuri mendelik kaget kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Luhan.

“Kau bertengkar—dengan siapa?” Tanya gadis itu. Tangan kanannya menyentuh memar disudut bibir Luhan dan berhasil membuat reaksi kesakitan dari pemiliknya. “Ya! Dengan siapa kau bertengkar?” Tanya Yuri lagi. Ia masih menatap kedua mata coklat milik Luhan. Lelaki itu menghela nafasnya perlahan.

“Sehun”

Mwo?!! Sehun? A—apa yang kau lakukan? Apakah dia baik baik saja? Ya! Kenapa kau melakukan hal seperti ini padanya?” Oceh Yuri. Ia menatap Luhan dengan kedua alisnya yang menyatu dan ekspresi kesal miliknya. Sementara itu Luhan hanya bisa bungkam untuk yang kesekian kalinya. Emosinya sudah meledak ledak dan lelaki itu masih harus menahannya.

“Kenapa kau melakukannya, Luhan-ya?” Tanya Yuri. Kali ini gadis itu menatap Luhan dengan wajahnya yang sayu dan kedua matanya yang berkaca kaca. Luhan yang masih diam benar benar tak mampu menjawab ucapan dari gadis dihadapannya ini. Hatinya benar benar terluka memandang Yuri yang kini sudah meneteskan air mata. Ia salah. Ia salah karena melukai Sehun. Lelaki yang gadis itu cintai dan sahabat lamanya. Tapi ia tak bisa diam jika mendengar ucapan yang Sehun lontarkan tentang gadis itu. “Jawab aku, Luhan”

“Tak bisakah kau mengkhawatirkan keadaanku? Lelaki itu, dia bahkan tak tau seberapa besar kau mencintainya. Dan kenapa? Menurutmu aku melakukan ini karena siapa? Untuk siapa?” Ujar Luhan. Ia memandang Yuri yang kini masih menatapnya bingung.

“Kau tak perlu melakukan ini”

“Apa maksudmu dengan aku tak perlu melakukan ini? Kau hanya tak tau apa yang sebenarnya terjadi” Bentak Luhan. Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Yuri yang kini terisak. Gadis itu memang tak mengerti. Tapi kenapa Luhan tak ingin memberitaunya?

“Tapi aku baik baik saja, Luhan” Kata Yuri sebelum Luhan benar benar berlalu meninggalkannya. Ia menatap Lurus kedepan dan mendapati Luhan kini menghentikan langkahnya. Lelaki itu hanya diam tanpa ingin menoleh melihat keadaan Yuri. Hatinya terlalu sakit untuk melihat gadis itu menangis, meskipun ia tau. Bukanlah sikap seorang laki laki jika membiarkan gadis menangis apalagi itu karena kesalahannya. Tapi hanya karena ia tak bisa. Ia takut hanya akan melukai gadis itu lebih dalam lagi jika ia terus berada disana. Oleh karena itu, pergi akan terdengar menjadi lebih baik untuknya. Setidaknya untuk saat ini.

“Kau memang terlihat baik baik saja, meski kau sebenarnya terluka” Ujar Luhan, kemudian berlalu meninggalkan gadis itu seperti angin.

Lelaki itu benar. Gadis itu hanya berusaha kuat. Ia sudah rapuh.

…Tsuru…

            Ketika musim panas berganti dengan musim gugur. Dan disaat angin pagi menyapa bersama dengan rintik rintik hujan membasahi kota Seoul. Yuri melangkahkan kakinya gontai kearah halte bus yang sering ia datangi. Tangan kanannya memegang payung biru laut. Gadis itu tengah melamun.

Dan saat ia tersadar dari lamunannya, disebrang sana. Lebih tepatnya di dekat halte bus, Yuri mendapati sesosok lelaki yang dulu selalu menemaninya kini berlari kearah halte. Lelaki itu tak menggunakan payung. Dan menggunakan ranselnya untuk menutupi kepalanya dari hujan.

Sudah lama. Sejak kejadian itu Luhan menjauhi Yuri. Entah mengapa. Yuri tak mengerti kenapa Luhan menjauhinya karena pertengkaran kecil yang terjadi. Ah, itu adalah pertengkaran paling besar yang pernah terjadi diantara mereka, selama ini.

Yuri sempat beberapa kali datang kekelas Luhan untuk mengajaknya kekantin. Tapi lelaki itu tak ada disana. Dia akan segera pergi kekantin dan berharap bertemu dengan laki laki itu, tapi dia juga tak ada disana. Ia mencari Luhan kesetiap sudut sekolah dan mendapati Luhan tengah duduk dibangku taman sendirian, sedang melamun. Yuri benar benar ingin menemui Luhan saat itu, tapi entah mengapa untuk pertama kalinya ia takut. Ia takut menatap kedua mata teduh Luhan yang nantinya akan berubah menjadi api, ia takut lelaki itu akan melukainya lagi.

Jadi ia memutuskan untuk berdiri disana. Memandang lelaki itu dari kejauhan. Menatap sosok yang ia rindukan. Sejujurnya, Yuri benar benar merasa kesepian saat Luhan tak lagi disisinya. Kehidupannya benar benar terasa hampa saat lelaki itu menjauh.

Tak ada Luhan yang selalu datang kerumahnya, tak ada Luhan yang selalu membawa sarapan untuknya, Tak ada Luhan yang menemaninya membaca buku diperpustakaan, Tak ada Luhan yang menjemputnya lalu mengantarkannya pulang, Tak ada Luhan yang selalu mengisi harinya dengan hal hal yang menyenangkan. Yang ada dalam hidupnya kali ini hanyalah, diam, melamun dan kesepian.

Yuri menutup payungnya kemudian duduk dibangku halte tersebut. Tak ada penumpang lain selain ia dan lelaki berambut coklat itu. Mungkin karena hujan? Atau mungkin karena takdir kembali mempermainkan mereka?

Tak ada percakapan yang terjadi.

Mereka sibuk bergelut dengan fikiran mereka masing masing. Sibuk menahan seluruh perasaan yang meledak ledak dalam diri mereka. Dan berakhir pada luka yang kembali menyapa mereka, membuat mereka merasakan sesak.

Luhan dan Yuri. Mereka hanya terlalu menjaga diri mereka. Berusaha bersikap tak perduli, saling mengabaikan. Dan seandainya mereka tau, bahkan saat mereka sama sama rindu.

Lelaki itu bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan melewati Yuri, tapi gadis itu berhasil menahannya, menghentikan langkah Luhan. “Aku ingin bicara denganmu”

“Apa?”

“Maaf”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya”

“Lalu?”

“Jangan pergi lagi” Ujar Yuri. Dia menundukkan kepalanya. Menunggu respon dari Luhan. Sementara itu, Luhan nampak terkejut mendengar ucapan yang Yuri lontarkan.

Mian, aku tak bisa”

Wae?”

“Aku hanya tak bisa”

Aku hanya tak bisa membuatmu terluka lagi. Lagi dan lagi.

…Tsuru…

Ending.

Paris, 09 February 2015

            Lelaki berambut coklat itu menghentikan langkahnya. Dan kembali memotret setiap sudut kota Paris dengan camera yang menggantung dilehernya. Meskipun sudah 2 tahun dia tinggal diParis, ia benar benar terpesona dengan pemandangan yang tersajikan disana.

Tentang bagaimana burung burung berkicau. Tentang bangku yang berdiri sendiri dan terlihat kesepian. Tentang bagaimana keindahan pohon pohon yang merubah mereka menjadi warna orange, kuning atau mungkin merah. Dan yang paling Luhan suka adalah ketika melihat bagaimana semua sepasang kekasih terlihat begitu bahagia. Bagaimana saat mereka saling tersenyum dan bergandengan tangan.

Luhan kembali mengarahkan lensanya pada sesosok gadis kecil yang membawa beribu origami kertas berbentuk burung bangau kini berjalan mendekatinya. Gadis itu tersenyum kecil lalu bertanya pada Luhan, “Apa kau akan membeli semua ini, Paman?” Luhan tersenyum pada gadis itu.

“Berapa banyak semua burung ini, Gadis manis?” Tanya Luhan. Dia tersenyum dan mulai mengambil rangkaian origami itu. Dan mengeluarkan beberapa lembar uang. “1000. Terima kasih, paman” Ujar gadis itu kemudian berlari kearah teman temannya. Luhan tersenyum dan membawa rangkaian burung bangau itu disalah satu bangku taman yang tersedia disana.

Ia menghela nafasnya perlahan. Lalu memandang rangkaian burung bangau itu. Fikirannya melayang tentang bagaimana gadis itu tersenyum begitu manis saat mereka berdua menyelesaikan burung bangaunya. Tentang bagaimana wajah gadis itu yang begitu bersinar walaupun hanya dibawah remang remang lampu.

Tapi kali ini semua sudah berbeda. Sudah hampir 10 tahun ia tak berjumpa dengan gadis itu. Terakhir kali ia melihat Yuri dua tahun yang lalu, saat gadis itu mengadakan pesta pernikahannya. Meskipun Luhan mendapatkan undangan dari Yuri, tapi ia memang sengaja untuk tak datang. Ia hanya bisa menyaksikannya lewat saluran televisi. Lelaki mana yang akan datang pada pernikahan gadis yang selama ini ia cintai? Lelaki mana yang sanggup memberikan doa agar gadis itu bisa bahagia dengan orang lain? Tak ada.

Gadis itu sudah benar benar sukses sekarang. Ia adalah artis papan atas yang bekerja disalah satu entertaiment terbesar diKorea. Sedangkan dirinya? Hanya seorang pengusaha yang menghabiskan waktunya dengan camera kesayangannya ini. Dan jika Luhan boleh mengaku, ia rindu. Dia benar benar rindu pada suara gadis itu. Luhan merindukan Yuri.

“Lu—luhan?”

Lelaki itu membuyarkan lamunannya. Ia menoleh kearah sumber suara dan mendapati gadis berambut pirang kini tersenyum padanya. Luhan menaikkan alis kanannya, seolah tak mengenali gadis itu. Dan beberapa detik kemudian ia mengerjapkan kedua matanya, tak percaya dengan apa yang ia lihat. “Yuri?”

“Ya, ini aku. Kau sedang apa disini?” Tanya gadis itu. Ia duduk disamping Luhan, dan menatap lelaki yang tak pernah ia jumpai selama ini. Yuri terus memastikan ia memberikan Luhan senyuman terbaik miliknya.

“Aku tinggal diParis. Dan sedang menunggu istriku, dia sedang membeli macaroon untuk putri kami” Ujar Luhan bohong. Ia tersenyum pada Yuri. Sementara itu, Yuri hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya singkat.

Entah mengapa ia tak suka saat Luhan menceritakan tentang istrinya. Yuri menarik nafasnya dalam dalam kemudian memandang setiap inci diwajah Luhan yang sangat dia rindukan. Lelaki ini tak berubah. Kedua matanya masih benar benar teduh didalam hati Yuri. Senyumannya masih sehangat dulu dan duduk disampingnya masih senyaman dulu. Bodoh memang jika ia merasakan hal seperti ini, padahal dia juga memiliki keluarga sendiri dirumah. Tapi ia harus mengakui satu hal. Merindukan sosok Luhan memang benar benar membuatnya sudah gila.

“Aku rindu” Ujar Yuri. Ia menatap Luhan yang kini menolehkan kepalanya memandang Yuri. Gadis itu tersenyum lembut berusaha meyakinkan apa yang ia rasakan lewat kedua matanya. “Aku merindukanmu” Ujarnya lagi, lebih pelan. Hampir seperti berbisik. Kali ini Luhan tersenyum, dan memalingkan wajahnya dari Yuri.

“Terimakasih. Aku sangat menghargai itu” Lelaki itu bangkit dari duduknya. Kemudian tersenyum pada Yuri.

“Kurasa aku harus pergi sekarang. Senang bertemu denganmu, Yuri-ah” Ujar Luhan ia tersenyum manis pada Yuri kemudian mulai melangkahkan kakinya pergi. Beberapa detik kemudian ia menghentikan langkahnya dan berbalik lalu berkata pada Yuri, “Sejujurnya aku sudah ingin memberikannya lama untukmu, ambillah seribu tsuru itu Yuri-ah. Aku juga merindukanmu”

Tubuh Yuri membatu. Ia memandang Luhan yang kini berlalu seperti angin untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini, laki laki itu benar benar sudah pergi dan tak akan kembali. Gadis itu mengutuk kebodohan yang selama ini lakukan, menghabiskan waktunya untuk mengejar lelaki yang justru hanya melukainya?

“Jadi, selama ini—“

Aku mencintaimu, Yuri-ah

…Tsuru…

The End

“Aku tak bisa menerima cintamu, karena sahabatku lebih mencintaimu. Yuri-sshi” Kata lelaki itu.

Aku menyerngit bingung. Sahabatnya? Siapa? “Nu-nugu, Sehun-ah?”

“Luhan. Dialah orangnya, dan hanya dia”

…Tsuru…

FIN.

Halo halo halo!

Gimana gimana gimana?

Hehe aku comeback lagi dengan ff ini. Hehe. Sad Ending hoho! Engga bikin mewek sih tapi ini menimbulkan penyesalan yang mendalam buat Yuri hoho~

Oke oke, aku tunggu review ya yup.

Gumawo~

Iklan

9 thoughts on “[Drabble] 千羽鶴

  1. Ya eonni… kenapa eonni bikin ff yang sad ending?? 😥
    Knapa Yuleon udah nikah?? 😮 itu sangat mengejutkan 😥
    Tapi nggak papa, aku menyukai semua karya eonn.
    Ditunggu karya karya yg lainnya eonn…
    Fighting!! ^_^9
    Ohh ya eon, kpan ff ‘Im Wolf’ nya dilanjutinn??
    Udah kangen berat ini sama lanjutannya eon… T_T
    Semoga eon cepet nge publish nya.. 😦
    Kangen beratt eonnn T_T

  2. ceritanya keren, bikin termehek mehek ini mah. huhu
    ntu yuri nikah ama siapa ya?
    luhan kasian banget, setia banget ya jadi orang..

Comment please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s